Perang Tarif, Titik Keseimbangan, dan Strategi Berjalan Mendahului Kurva
Posted by yoki Kuncoro on December 2nd, 2008
Saat ini, perang tarif yang terjadi antaroperator telekomunikasi masih saja terjadi. Dan entah kapan akan berhenti. Padahal, perang tarif ini telah berlangsung cukup lama dan “keras”. Untuk itu, penulis tertarik untuk menganalisis fenomena ini dan menemukan jalan keluarnya.
Sederhananya, perang tarif disebabkan karena dua hal. Yaitu, para operator telekomunikasi ingin menjaga konsumennya agar tetap menjadi pelanggannya. Juga, untuk mengakuisisi konsumen yang telah menjadi pelanggan pesaingnya. Dan sampai sekarang, strategi yang dipilih para operator telekomunikasi untuk memenangkan kompetisi adalah sama-sama low-cost strategy.
Namun yang menjadi pertanyaan kemudian adalah, pertama, apa dampak dari terjadinya perang tarif? Kedua, kapan perang tarif ini akan berhenti? Ketiga, pada saat bagaimana akan terjadi “titik keseimbangan” dalam perang tarif ini? Dan keempat, strategi apa yang harus dilakukan agar sebuah operator telekomunikasi dapat menjadi pemenang.
Mari kita mulai dengan pertanyaan pertama, yaitu dampak dari perang tarif, baik itu bagi operator telekomunikasi maupun masyarakat sebagai konsumen.
Bagi masyarakat, hal pertama yang dialami ketika terjadi penurunan tarif adalah masalah biaya komunikasi. Biaya komunikasi yang selama ini dirasakan cukup tinggi dengan serta merta menjadi lebih rendah. Hal ini jelas memberikan keuntungan yang siginifikan. Sehingga, dapat meningkatkan kinerja dalam bekerja, wirausaha, dan berbagai aktivitas lainnya. Dan akhirnya, total keuntungan yang diterima masyarakat akan menjadi lebih tinggi.
Namun jangan lupa, ketika peningkatan penggunaan telepon semakin tinggi, otomatis traffic yang terjadi semakin padat dan memberikan dampak kurang baik pada kualitas sinyal maupun pada saat memulai komunikasi.
Sedangkan bagi operator telekomunikasi, jelas semuanya akan mengalami penurunan keuntungan. Hal ini sangat wajar. Apalagi ketika pemain di industri ini semakin banyak, maka tingkat kompetisi memperebutkan market share semakin tinggi. Dan ketika low-cost strategy yang dipilih, penurunan keuntungan menjadi konsekuensinya.
Menjawab pertanyaan kedua, perang tarif akan berhenti ketika tiap-tiap operator telekomunikasi sudah tidak mampu lagi menemukan elemen-elemen biaya yang bisa dikurangi. Sehingga, tiap operator akan berhenti pada titik dimana harga terendahlah yang ditawarkan. Karena memang, menurut Michael Porter, agar dapat menjalankan low-cost strategy perusahaan perlu melakukan banyak efisiensi biaya melalui pengurangan berbagai aktivitas tertentu dan menghilangkan elemen biaya yang tidak perlu.
Tetapi harus diingat, dampak negatif dari penurunan tarif ini dalah memburuknya pendapatan operator telekomunikasi dan menurunnya kualitas layanan (sinyal) komunikasi yang dirasakan masyarakat selaku konsumen. Padahal, kedua hal ini merupakan parameter dalam mengukur kinerja sebuah perusahaan. Untuk itu, langkah pertama agar dapat memenangkan kompetisi, sebuah operator telekomunikasi harus cepat-cepat keluar dari perang tarif.
Ketiga, titik keseimbangan tidak terjadi ketika semua operator berhenti melakukan penurunan tarif. Tetapi, akan terjadi pada saat semua perusahaan melakukan best-cost provider strategy. Porter menjelaskan bahwa, best-cost provider strategy bertujuan untuk memberikan keuntungan terbaik dari sebuah produk atau jasa berdasarkan harga yang rendah dan diferensiasi yang menghasilkan nilai tambah terbaik yang dapat dihasilkan perusahaan.
Untuk itu, langkah kedua untuk memenangkan kompetisi, sebuah operator telekomunikasi harus serius memikirkan diferensiasi yang kuat berdasarkan keunggulan yang dimilikinya. Sehingga, tidak terjebak lagi dalam perang tarif yang hanya akan merugikan operator telekomunikasi itu sendiri.
Keempat, jika sebuah operator telekomunikasi telah berhasil mencapai titik keseimbanganya, maka harus mulai berani “berjalan” mendahului kurva. Artinya, ketika para pesaing masih sibuk dengan low-cost strategy atau best-cost provider strategy, sebuah operator telekomunikasi harus satu langkah ke depan dalam menggunakan strategi berikutnya.
Caranya, adalah dengan menjalankan langkah ketiga dalam memenangkan kompetisi, yaitu blue ocean strategy atau strategi “samudra” biru. Strategi ini fokus pada pembentukan ceruk pasar baru melalui inovasi dan penciptaan produk yang luar biasa. Yaitu produk yang tidak hanya memiliki nilai tambah baru, tetapi juga dapat menjadi standard setter, price maker, dan value innovator.
Salah satu contohnya adalah dengan menciptakan sebuah inovasi layanan nilai tambah (value added service) yang mampu mendobrak pikiran dan merubah perilaku dalam berkomunikasi sehingga menjadi lebih efektif positif dan sangat efisien.
Nah, ketika sebuah operator telekomunikasi telah berhasil menciptakan inovasi ini, maka dapat dikatakan telah berhasil “berjalan” mendahului kurva yang sulit dikejar oleh para pesaing. Alhasil, operator telekomunikasi ini akan lebih mudah untuk menjadi pemenang dalam kompetisi di industri yang dikenal sangat ketat dan keras ini.***


March 21st, 2009 at 7:14 pm
Salut Bung Yoki,
Luarrr biasa.. Muantab2..
Saran aja dikit, niy. Kalo boleh, digambarin dikit2 ilustrasi kurvanya. Biar yg agk2 males baca seperti saya, bisa langsung nangkep. Katanya, siy gambar “berbicara” mewakili jutaan kata2.. [Berlebihan mungkin, ya?!]
Pokoke, sukses lah buat Bung Yoki yg denger2 pnah meneliti pula seputaran Econophysics. Bahkan, salah satu pengujinya kalo ga salah Prof. Yohanes Surya, Ph.D.
Sukses,
David Sitompul